Milikilah mimpi besar
Waktu saya masih kecil, saya selalu ingin menjadi penyanyi terkenal nantinya. Lalu saya membayangkan menjadi presiden. Lalu saat saya berusia 21 tahun, teman saya mengajak saya dan yang lain menulis daftar 25 hal yang ingin kami lakukan dalam hidup kami. Saya telah memimpikan masa depan sejak lama. Tapi anehnya, saat sekarang “masa depan” itu di sini, saya hampir tidak bisa… mengingat sebagian besar hal-hal yang saya tulis dalam daftar itu. Hmmm… saya masih ingat sebagian: membeli dan mendekor ulang sebuah rumah tua, bisa jalan2 keliling dunia dan memulai bisnis saya sendiri. Yang terakhir ini masih melekat dalam diri saya, sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Saya pikir ada banyak orang yang membuat daftar seperti itu, berisi hal-hal seperti: tour ke Eropa, menemukan sesuatu yang berguna bagi dunia, mendaki gunung-gunung tertinggi, membuka restoran, dan sebagainya. Apa impian Anda? Apakah Anda pernah berada di suatu kelas, gereja, berjalan kaki, atau saat teduh Anda dan mendapatkan pimpinanNya untuk mengejar sesuatu?
Anak Kecil, Nenek, dan Kue Cake
Seorang anak kecil memberitahu Neneknya bagaimana “segala sesuatu” berjalan salah - sekolah, masalah keluarga, masalah kesehatan yang parah, dll. Sementara itu, Nenek sedang membuat kue. Seolah tidak menghiraukan keluh kesah cucunya itu, dia bertanya kepada anak yang masih kecil itu, apakah ia ingin camilan atau tidak?
Ikut Berdoa
Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan (Lukas 10:31)
Teman-temannya heran, Rita datang ke pertemuan pemahaman Alkitab. Bagaimanapun, mereka gembira karena biasanya meski sudah dibujuk berkali-kali pun Rita enggan ikut. Kini, walaupun tampak tidak bersemangat, paling tidak ia muncul. Seusai pertemuan, Ani menanyainya, “Tumben kamu bisa datang?” Rita menjawab, “Iya-lah, malas di rumah. Selalu disuruh-suruh melulu. Mau jalan-jalan juga lagi bokek. Ya sudah, akhirnya aku datang ke sini saja.”
TEGAS MENDIDIK
Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 29:17)
Dalam sebuah acara pertemuan orangtua, kami membahas satu pertanyaan sederhana tetapi penting: Bolehkah kita menghukum anak? Hasilnya, kami mendapati beberapa prinsip penting ini: Mendidik anak mesti tegas, tetapi tidak harus sampai menghukum. Apabila kita menegur, tujuannya bukan menghukum, tetapi mengoreksi kesalahan. Jangan pernah menghukum anak untuk kesalahan yang tidak ia sengaja, atau jika ia tidak tahu apa kesalahannya. Jangan pernah menghukum anak jika kita sedang marah dan tak bisa mengendalikan diri.
Setelah mengoreksi anak, segeralah memeluknya. Katakan bahwa kita mengasihinya, lalu berdoa bersamanya. Latih anak untuk meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan.
Imam Eli mendapat hukuman yang berat karena sebagai orangtua, ia tidak mendidik anak-anaknya dengan tegas. Eli membiarkan anak-anaknya memandang rendah korban sembelihan umat kepada Tuhan: ”Mengapa engkau Eli, lebih menghormati anak-anakmu daripada menghormati Aku, dan membiarkan mereka menggemukkan dirinya dengan bagian yang terbaik dari setiap persembahan bangsa-Ku kepada-Ku? (2:29). Apalagi, ”Eli mengetahui dosa-dosa mereka itu, tetapi mereka tidak dimarahinya” (3:13). Hofni dan Pinehas pun tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang ayah, yang adalah otoritas di atas mereka. Akibatnya, semua kena hukuman Tuhan—baik Eli, juga anak-anaknya.
Tuhan memberi otoritas kepada orangtua untuk mendidik dengan ketegasan. Namun, tentu ketegasan yang berdasar kasih dan bertujuan. Yakni, untuk membesarkan anak yang bertanggung jawab atas hidupnya; kepada Tuhan dan sesama —AW
ANAK ADALAH AMANAT ALLAH
YANG DIBESARKAN UNTUK DAPAT MENYENANGKAN ALLAH
Source:http://www.renunganharian.net/index.php/2011/9-oktober/31-tegas-mendidik
Doa seorang anak
Bapa di surga
Ya?
Jangan menyela. Aku sedang berdoa.
Tapi kamu memanggil-Ku.
Memanggil-Mu? Aku tidak memanggil-Mu. Aku sedang berdoa.
Bapa di surga
Nah, ya’kan, kamu melakukannya lagi.
Melakukan apa?
Memanggil-Ku. Kamu bilang Bapa di surga. Aku di sini. Apa yang ada dalam benakmu?
Lho, aku tidak bermaksud apa-apa, kok. Aku ini’kan cuma sekedar mengucapkan doa malamku. Aku selalu berdoa sebelum tidur. Itu merupakan kewajibanku.
Oh, baiklah. Teruskan.
Aku mengucap syukur atas segala berkat-Mu
Sebentar. Berapa besar rasa syukurmu?
Apa?
Berapa besar rasa syukurmu atas segala berkat-Ku?
Aku..yah..aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Bukankah itu memang bagian dari doa? Begitulah mereka mengajarku berdoa.
Oh, baiklah. Teruskan..
Teruskan?
Ya, teruskan doamu.
Oh, ya. Berkatilah mereka yang sakit, yang miskin dan yang menderita ..
Apakah kamu bersungguh-sungguh?
Ya, tentu saja.
Apa yang telah kamu lakukan untuk itu?
Lakukan? Siapa, aku? Tidak ada, kurasa. Aku hanya berpikir bahwa semua akan menjadi baik jika Engkau yang berkuasa atas segala sesuatu di sini seperti Engkau berkuasa di atas sana, jadi manusia tidak perlu lagi menderita.
Apakah Aku berkuasa atasmu?
Hmmm, aku pergi ke gereja, aku memberi kolekte, aku tidak..
Bukan itu yang Aku minta. Bagaimana dengan tingkah lakumu? Teman-temanmu dan juga keluargamu menderita karena ulahmu. Juga caramu memboroskan uang..semuanya hanya untuk kepentingan dirimu sendiri saja. Dan bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca?
permata Hatiku
Yesus Engkaulah permata hatiku
Dunia tak dapat menggantikanMu
KemuliaanMu tercurah bagiku
Menjadikanku indah
Dan semakin indah bagiMu

Itulah
penggalan lagu dari lengkingan Sammy Simorangkir yang dahulu lebih terkenal dengan nama sebuah band tanah air.sebagai anak Tuhan tentunya kita berharap kalau TUhanlah yang menjadi permata hati kita. Apapu yang terjadi Tuhan akan selalu menjadi permata hati kita.
Page 1 of 6

Beberapa waktu yang lalu pernah muncul sebuah kisah menarik yang ditayangkan dalam berita televisi di Taiwan. Di pegunungan Alishan ada sebuah tempat yang bernama Rueili. Seutas jalan yang menghubungkan Chiay dan Alishan melewati daerah ini. 
memasukkannya ke dalam kotak. “Ada 5 hal yang perlu kau ketahui,¨ katanya kepada pensil, sebelum kau kukirim ke seluruh dunia. “Hendaknya kau ingat selalu pesanku berikut ini, dan jangan sampai lupa. Yakinlah kau bakal berhasil menjadi pensil yang terhebat.”